Tidak ada seorangpun manusia di saentero jagat raya ini yang mampu dengan mudah melepaskan diri dari belenggu permasalahan hidup atau penderitaan hidup. Sekalipun Ia seorang anggota keluarga yang tampak bahagia, hidup berkecukupan, punya jabatan tinggi, artis cantik, atau pria sempurna menurut ukuran wanita. Tidak terkecuali, semua orang, pasti punya masalah, punya penderitaan paling tidak punya rasa kecewa
Sejak sering didatangi banyak orang yang mengadukan permasalahan hidupnya, sejak itu pula saya mengetahui betapa beraneka ragamnya permasalahan hidup manusia. “Anda, jangan mengira saya seorang psikiater atau seorang paranormal”. Saya hanyalah seorang murid dari pengalaman mereka yang datang.
Di antara mereka yang datang, ada yang dengan gamblang bercerita masalah hidupnya ada pula yang malu-malu. Untuk yang malu-malu saya harus bersikap hati-hati membuka Jendela Johari mereka Tetapi dalam posisi ini, saya tetap termasuk yang diuntungkan, karena saya dapat mengambil pelajaran dari pengalaman hidup mereka. Kata orang, “pengalaman adalah guru yang paling baik”.
Saking seringnya mendengarkan cerita pengalaman hidup mereka, kadang saya terbius, hanyut terbawa arus dan ikut merasakan apa yang telah dan sedang mereka alami. Apakah ini yang dibilang orang perasaan emphati ?. Saya tidak tahu pasti. Yang pasti saking beragamnya pengalaman hidup yang saya terima dan masuk ke dalam memori, serasa hidup saya telah berabad-abad, padahal baru setengah abad.
“Tidak ada seorang pun yang hidup menderita seperti saya”.
“Ini mungkin sudah takdir saya”
Itulah rata-rata ungkapan awal dari keluhan mereka.
“Penderitaan hidup Anda mungkin hanya sepersepuluh dari penderitaan hidup saya”,
Kadang saya mencoba menghibur mereka sekalipun dari cerita mereka, saya dapat merasakan betapa beratnya beban penderitaan hidup yang mereka pikul. Membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain rasanya memang kurang adil. Tetapi hal itu, meskipun sedikit, mungkin akan menjadi pasokan energi bagi merka
Memang sudah kodrat manusia peka terhadap penderitaanm tetapi mandul terhadap kebahagian. Pada saat Anda membuka kulit salak. Ujung jari Anda tersusuk duri kecil kulit salak. Anda merasakan sakitnya 10 kali bahkan 20 kali lipat dari sakit yang sesungguhnya. Hal itu kadang-kadang menimbulkan penderitaan yang ujungnya dikaitkan dengan hilangnya kebahagiaan.
Permasalahannya, apakah kalau penderitaan hilang otomatis Anda akan merasa bahagia? Saya yakin “tidak”. Semua orang ingin hidup berbahagia, tetapi selama orang itu hatinya tidak peka terhadap hadirnya kebahagiaan, selamanya pula Ia tidak akan merasakan kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah Hasil, bukan Tujuan Hidup.
“Sebenarnya apa sih yang disebut kebahagian?”.
Karl Hilty (1833–1909), ahli filsafat dari Swiss menjelaskan bahwa kebahagian hidup tidak dapat diukur dengan sedikitnya penderitaan. atau bahkan sama sekali tidak memiliki penderitaan. Akan tetapi, kebahagiaan yang hakiki justru lahir dan dapat dirasakan tatkala berhasil berjuang melepaskan diri dari penderitaan.
Akhir-akhir ini saya sering merenungi ungkapan di atas, kemudian mencoba menjadikannya sebagai motivasi dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup ini Lain halnya dengan Victor E. Frankl (1909-1997). Di dalam karyanya besarnya yang berjudul “Night and Fog” (Malam dan Kabut), Ia mendefinisakan kebahagiaan lebih sedernana dari pada Karl Hilty.
“Kebahagiaan bukanlah tujuan hidup, Ia tidak akan menjadi tujuan hidup, bahkan tidak dapat dijadikan tujuan hidup. Kebahagiaan tidak lebih dari sebuah hasil”. Demikian pernyataan Victor E Frankl.
Ungkapan di atas menginatkan saya, bahwa kebahagiaan tidak perlu dicari. Kebahagiaan tidak bisa direncanakan Kalau cara hidup atau kebiasaan hidup dapat diperoleh dengan sebuah keinginan, kebahagiaan tidak demikian. Kebahagiaan adalah kondisi hati seseorang. Oleh sebab itu kebahagian berbeda dengan perasaan senang yang hadir sesaat atau perasaan senang yang dialami oleh sepasang remaja yang sedang menjalin cinta.
Kebahagiaan yang hakiki adalah ketentraman hati yang terus menerus, kedamaian hati yang berkelanjutan. Oleh karena itulah ada pepatah yang menyebutkan, “kebahagiaan tidak berada di luar, tetapi bersemi di dalam hati”. Memang sungguh luar biasa yang namanya “hati” manusia. Berbahagialah mereka yang hatinya memiliki kepakaan terhadap “kebahagiaan” dan mandul terhadap “penderitaan”. Semoga Anda termasuk orang-orang dapat menyentuh kepekaan itu. Aminn…